Sesempit rumah susun
Tidak direncanakan dan tidak dikira. Mungkin itu gambaran tentang kehidupan kita. Ada kalanya ajal menjemput dengan tiba2 tanpa kita tahu dan kita rencanakan. Begitu juga dengan cobaan dan kesenangan. Ada yang iri dengan orang lain karena kekayaan yang dimiliki, padahal kekayaan itu bukanlah segalanya. Ada juga yang iri dengan kecantikan dan ketampanan seseorang, padahal ketampanan itu hanyalah titipan. Banyak orang hebat tidak dimulai dengan harta, tapi dengan keringat. Ketika kita masih SD, apakah kita harus membeli sempoa untuk menghitung 1 + 1. Padahal Allah swt telah memberikan kita tangan. Tapi perlu diingat, bahwa SD pun juga butuh biaya. Jadi harta memang bukan segalanya, tapi segalanya akan menjadi harta. Bagi orang tua, harta paling berharga adalah anak. Bagi diri masing-masing, harta yang paling berharga adalah nyawa. Artinya…setiap orang punya ruang pemikiran dan ruang idealisme yang berbeda-beda.
Jauh dari itu semua, adakah yang melihat bahwa silaturahim dengan kerabat adalah harta yang paling bermakna. Terkadang kita lupa, bahwa kita bisa menjadi besar karena teman kita. Kita bisa menjadi tahu karena teman kita. Silaturahim bahkan bisa memperpanjang umur kita. Koq bisa? Ya iyalah. Bayangkan jika hidup kita dikelilingi oleh jutaan lembar uang seratus ribu rupiah. Pikiran kita selalu membayangkan apa yang bisa kita beli, apa yang bisa kita lakukan dengan uang ini, bagaimana agar uang ini tidak jatuh ke tangan orang lain, dan bagaimana supaya uang kita tetap utuh. Kita akan dipusingkan dengan pemikiran semu tentang hal yang tidak kekal. Tapi coba bayangkan jika kita dikelilingi oleh teman2 dekat. Hidup akan terasa lebih indah, lebih hidup, dan serasa nyaman. Walaupun mungkin ada yang minta uang ke kita. Tapi ada perasaan lega jika banyak teman.
Janganlah kita terpana pada kilau dunia yang menyilaukan mata. Janganlah juga menganggap dunia hanya sesempit rumah susun. Biarkanlah ia menjadi lebar seperti lahan pertanian.
